Council of National Representative Meeting, 25-27 May 2017

Delagasi Indonesia diwakili oleh Ketua Umum DPP PPNI, Ketua Bidang Luar Negeri, Ketua Bidang Organisasi dan Kaderisasi dan perwakilan wilayah Koordinator Wilayah Sulawesi. Perjalanan cukup melelahkan dengan perbedaan waktu antar Negara yang panjang 5-6 jam. Tak ada waktu adaptasi bagi jet lag yang dirasakan, tidak tidur 24 jam delegasi langsung mengikuti kegiatan sidang sehari penuh. Kegiatan dilakukan di Centre de Convencions Internacional de BarceloPembukaan dilakukan langsung oleh The President of ICN, Judith Samian dari Canadian Nurses Association. Tidak seperti di Indonesia, jika ada pejabat dari Negara maka pembukaan dilakukan oleh pejabat yang hadir. Padahal pada acara tersebut, hadir pula Ambassador William Swing the Director of IOM (International Organisation Of Migration) lembaga Perserikatan Bangsa Bangsa yang mengurusi bidang migrasi, termasuk pengungsi. Setelah pembukaan, dilakukan penentuan anggota baru, apakah diterima atau tidak. Brasil melalui organisasinya bernama the Conselho Federal de Enfermagem (COFEN) dan Peru Colegio de Enfermeros del PerĂș (CEP) diterima kembali sebagai anggota ICN melalui electronic voting. Voting oleh anggota dilakukan setelah dilakukan assessment oleh board members. Beberapa Negara yang keluar dari ICN belum bisa diterima kembali sebagai ICN oleh board members, sebanyak 5 negara mengajukan diri menjadi anggota namun masih dianggap belum memenuhi kriteria ICN. ICN benar benar memperhatikan eligibilitas Negara yang akan bergabung, bersyukur Indonesia telah diterima sebagai anggota pada tahun 2003. Berbagai catatan status, seperti partial payment atau extra ordinary bagi Indonesia mulai dihilangkan sejak tahun 2012 seiring dengan kemampuan finansial PPNI. Catatan ini diberikan manakala terdapat berbagai hambatan dalam pemenuhan pembayaran iuran keanggotaan ICN.

Sesi kedua adalah berbicara tentang Migrant, Refugees and Displaced Person (MRDPs) yang diawai dengan presentasi dari Ambassador William Swing. Walau Indonesia tidak termasuk dalam pemain utama mengatasi permasalah migrasi dan pengungsi, Indonesia salah satu negara yang disebut oleh Swing dengan adanya domestic migrant karena bencana. Dilanjutkaan dengan Tanya jawab dan presentasi dari 6 Negara yang memiliki kaitan dengan MRDPs, yaitu Yunani, Libanon, Kanada, Samoa dan Kongo. Banyak upaya yang dilakukan perawat untuk melakukan tindakan nyata dalam masalah kesehatan migrant. MRDPs menarik dan perlu untuk masuk dalam policy discussion and statement.

Pernyataan dan gambar menarik di sampaikan oleh presiden ICN, Judith Shamian, keperawatan tentan bubble phenomena ditingkat idividu, nasional, regional dan internatsional. Voice of nurses to be heard menjadi sangat relevan. Perawat sangat diperlukan tapi tak banyak orang yang mengenal dan tak dilihatkan dalam pengambilan keputusan penting. Pekerjaan PPNI yang tak kenal lelah mengenalkan organisasi dan pentingnya perawat harus dilanjutkan dan diikuti oleh semua lapisan. Di dalam lembaga lembaga PBB masih ada yang belum mengenal kiprah ICN dan perawat dalam mengatasi berbagai masalah dunia yang berakibat pada masalah kesehatan
na atau semacam Jakarta Convention Center atau sejenisnya.

Forum konsultasi regional, membahas berbagai aspek MRDPs, dari Negara-negara anggota. Sharing informasi dan pengalaman mengatasi migrasi dan pengungsi serta hambatan yang dialami perawat sangat hangat terjadi. Migrasi juga mencakup pengertian perpindahan perawat secara natural atau terpaksa. Perpindahan perawat secara natural keluar negeri akibat kebijakan politik dalam negera Philiphina terhadap perawat menyebabkan mulai dirasakan kekurangan perawat kompeten didalam negeri. Namun isyu panas seperti pengungsi Rohingnya yang sebagian masuk ke Indonesia hanya sedikit disinggung. Berbagai usulan dalam meningkatkan keterlibatan proses pengambilan keputusan di tingkat pemerintah dan lembaga dunia disampaikan NNAs (National Nurses Associations) . Salah satu yang menarik adalah dibukanya nursing officer post di WHO. Usulan selundupan yang tidak terkait topic, tetapi penting untuk disampaikan. Forum juga menyepakati draft policy paper yang disampaikan oleh tim penyusun.

Selanjutnya, policy paper menjadi kewajiban semua level organisasi untuk menjalankan berbagai arahan kebijakan agar bisa diimplementasikan. Bagi Indonesia inti penting sebagai pintu masuk untuk menyampaikan betapa pentingnya perawat dalam menangani pengungsi, terutama akibat bencana alam yang banyak terjadi di Indonesia. Policy paper akan diterjemahkan dan dikirimkan ke Kementerian Kesehatan, Kementerian Sosial dan Badan Nasional Penanggunalan Bencana sebagai bahan advokasi dan pintu masuk pelibatan dan perhatian masalah keperawatan dalam tim bantuan kesehatan.

Hari ke 2
Pemilihan board member dari 7 wilayah area. Asia (wilayah 7) memiliki 3 seat dengan 5 kandidat. Beberapa wilayah tidak terdapat kompetensi karena kandidat sesuai dengan ketersediaan seat, sehingga tidak perlu voting. Saat ini Indonesia belum mengajukan diri sebagai board member, peluang kedepan terbuka lebar. Peluang akan lebih tinggi jika Indonesia dapat meningkatkan poin voting sampai tingkat tertinggi, poin ini diperoleh jika prosentase pembayaran iuran ICN lebih dari 50% anggota tercatat. Sebagai informasi, saat ini ICN menggunakan data Jumlah perawat dari WHO sebanyak 338.501 dengan Jumlah pembayaran iuran anggota PPNI hanya 8.996 (2,6%). Dengan jumlah seperti ini Indonesia hanya memiliki 1 poin dalam voting. Additional vote belum merupakan prioritas mempertimbangkan berbagai perkembangan organisasi di tanah air. Yang menarik, dari hari pertama untuk semua putusan di voting, voting dilakukan secara elektronik sehingga sangat cepat. Dukung mendukung pada kegiatan ini sangat menarik, namun kampanye hanya boleh dilakukan diluar ruang sidang, bahan kampanye tidak boleh masuk dalam arena sidang. Khusus saat voting anggota board members, yang boleh hadir dalam ruang sidang hanya ketua NNA saja. Voting selain itu, ketua NNA bisa didampingi oleh staf teknis dan pendamping dan observer.
Dalam hal perubahan anggaran dasar organisasi ICN, banyak hal yang bisa dipelajari. Salah satunya adalah proses pengambilan keputusan yang berjenjang. Ide perubahan dilakukan 2 tahun yang lalu dalam pertemuan CNR (country national representative), dilakukan kajian oleh tima ahli dan konsultasi secara tertulis kepada NNAs. Hasil akhir dari putusan dilakukan melalui voting. Pengarahan voting untuk menyangkut masalah hokum didampingi ahli hokum untuk mengarahkan pemahaman perwakilan NNAs. Dalam perubahan area wilayah perwakilan board members, bahkan prosesnya melalui kajian dan persiapan kewilayahan. Kajian meliputi keterwakilan, efektifitas dan efisiensi serta kemampuan organisasi termasuk finansial. Pemberlakukan putusan menyangkut perwakilan wilayah tidak serta merta dipakai pada saat putusan dibuat, tetapi satu periode kedepan. Jadi board member yang dipilih di 2017 tetap menggunakan perwakilan wilayah lama, tetapi pada periode masa bakti 2021 model perwakilan wilayah baru akan diimplementasikan.
Dalam forum ini dimanfaat juga sebagai arena pendekatan oleh Negara-negara yang memiliki kepentingan bersama. Indonesia melakukan pendekatan khusus kepada Uni Emirat Arab, China dan Singapure karena adanya kepentingan yang sedang digarap. Dari UEA memiliki kepentingan banyak karena potensi kebutuhan perawat dari Indonesia agar lebih diperhatikan. China kita memilih mengorek kemajuan China Nursing Association yang tumbuh pesat dalam waktu singkat dan dapat melakukan kebijakan internasional perawat dengan kebijakan Negara. Pemerintah China memberi dukungan sangat besar pada CNA sebagai salah satu focal point hubungan internasional pemerintah china. Dengan Singapure kita belajar bagaimana menumbuhkan tokoh perawat yang memiliki koneksi yang sangat kuat dengan berbagai pimpinan tinggi Negara. Indonesia tak hanya banyak belajar, namun juga banyak memberikan pelajaran bagi Negara-negara lain. Salah satunya adalah kekuatan gerakan PPNI dalam memperjuangkan berbagai kepentingan perawat di Indonesia melalui gerakan parlemen dan mobilisasi masa. Melalui kegiatan ini, PPNI juga dapat mengukur sebara jauh perkembangan keprofesian dari sisi regulasi, kebijakan pemerintah dan tatanan praktik operasional keperawatan.
Kita bersukur bahwa jika dibandingkan dengan banyak Negara dari berbagai regional terutama ASEAN, Pasifik barat PPNI dari sisi peran dan gerakan (voice ) lebih baik dan lebih menunjukkan Independensi dalam pengorganisasian dan perannya. Banyak perwakilan Negara yang hadir bukan dari NNA tetapi dari council atau board yang dibiayai oleh Negara, karena NNA dinegara tersebut masih belum berdaya.

Hari ke 3
Pengumuman hasil pemilihan prisiden ICN, terpiliha Annete Kennedy dari Irish Nursing and Midwifery Organization (INMO) tanpa kontestasi karena tidak ada kandidat lain. Selain hal tersebut, terpilih juga board members, dari 7 wilayah perwakilan. Berikut adalah anggota board masa bakti 2017 -2021:
1. Thembeka Gwagwa, South Africa representing Area 1
2. Fatima Al Rifai, the Emirates representing Area 2
3. Ioannis Leontiou, Cyprus representing Area 2
4. Karen Bjoro, Norway representing Area 3
5. Brigita Skela-Savic from Slovenia representing Area 3
6. Roswitha Koch, Switzerland representing Area 4
7. Maria Eulalia, Juvé Spain representing Area 4
8. Pamela Cipriano, the United States representing Area 5
9. Lisa Little, Canada representing Area 5
10. Erika Caballero, Chile representing Area 6
11. Lian-Hua Huang, Taiwan representing Area 7
12. Sung Rae Shin, Korea representing Area 7
13. Wu Ying, China representing Area 7

Yang menarik pada kegiatan hari ketiga selain hal diatas adalah diberikan waktu khusus bagi ketua organisasi mahasiswa keperawatan untuk tampil kedepan. Ketua Erupenan Nurses Student Association diberikan podium untuk menyampaikan pidato. Pidato tanpa teks sekitar 10 menit dihadapan perwakilan Negara Negara anggota ICN yang menyampaikan impian dan harapan kedepan tentang keperawatan berhasil memukau seluruh perwakilan. Standing applause dari seluruh perwakilan Negara yang hadir pada akhir pidato menunjukan penghargaan terhadap isi pidato dan eksistensi serta harapan terhadap lembaga kemahasiswaan perawat dan keberlangsungan perjuangan keperawatan diseluruh dunia.

Terahir adalah pembukaan secara resmi international of nursing congress (27 May- 1 June) di the Palacio San Jordi salah satu indoor sport terbesar di Spanyol yang banyak dipakai dalam kegiatan perlombaan atletik dan basket internasional. Sambutan meriah diberikan kepada delagasi Indonesia dalam parade pembukaan. Kebiasaan Indonesia memakai kostum daerah yang berbeda sehingga menarik, bukan hanya peserta lain namun juga juru kamera dan media. Setali dengan keberangkatan delegasi, demikian juga kepulangan delagasi, selesai kegiatan sidang delegasi dibagi dua, Ketua Umum dan Koordinator Wilayah mewakili delagasi mengikuti parade Negara anggota ICN dihadapan masyarakat Spanyol dan peserta Conference dan delegasi lain membawa koper ke bandara untuk mengejar pesawat yang akan membawa pulang ke Indonesia dimalam yang sama.