Standar Kompetensi

Pembangunan kesehatan ditujukan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang dalam rangka mewujudkan derajatkesehatan yang optimal sebagai salah satu unsur kesejahteraan sebagaimana dimaksud dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945. Kesehatan sebagai hak sasi manusia harus diwujudkan dalam bentuk pemberian berbagai upaya pelayanan kesehatan yang berkualitas dan terjangkau oleh masyarakat. Pelayanan keperawatan merupakan bagian integral dari pelayanan kesehatan ditujukan kepada individu, kelompok dan masyarakat yang memiliki masalah fisik, mental maupun sosial di berbagai tatanan pelayanan kesehatan

Untuk menyiapkan sumber daya manusia yang berkualitas sesuai dengan tuntutan pasar kerja atau dunia usaha dan industri maka perlu ada standar profesi agar terwujud hubungan imbal balik yang positif. Standar profesi ini juga dapat digunakan oleh pemerintah alam mengembangkan kebijakan secara makro

Standar profesi perawat Indonesia ditetapkan untuk memastikan asyarakat menerima pelayanan dan asuhan keperawatan yang kompeten dan aman.

Detail mengenai standar kompetensi bisa di download di link berikut :

Standar Asuhan Keperawatan

Standar Asuhan Keperawatan adalah uraian pernyataan tingkat kinerja yang diinginkan, sehingga kualitas struktur, proses dan hasil dapat dinilai. Standar asuhan keperawatan berarti pernyataan kualitas yang didinginkan dan dapat dinilai pemberian asuhan keperawatan terhadap pasien/klien. Hubungan antara kualitas dan standar menjadi dua hal yang saling terkait erat, karena melalui standar dapat dikuantifikasi sebagai bukti pelayanan meningkat dan memburuk (Wilkinson, 2006).

Tujuan dan manfaat standar asuhan keperawatan pada dasarnya mengukur kualitas asuhan kinerja perawat dan efektifitas manajemen organisasi. Dalam pengembangan standar menggunakan pendekatan dan kerangka kerja yang lazim sehingga dapat ditata siapa yang bertanggung jawab mengembangkan standar bagaimana proses pengembangan tersebut. Standar asuhan berfokus pada hasil pasien, standar praktik berorientasi pada kinerja perawat professional untuk memberdayakan proses keperawatan. Standar finansial juga harus dikembangkan dalam pengelolaan keperawatan sehingga dapat bermanfaat bagi pasien, profesi perawat dan organisasi pelayanan (Kawonal, 2000).

Setiap hari perawat bekerja sesuai standar – standar yang ada seperti merancang kebutuhan dan jumlah tenaga berdasarkan volume kerja, standar pemerataan dan distribusi pasien dalam unit khusus, standar pendidikan bagi perawat professional sebagai persyaratan agar dapat masuk dan praktek dalam tatanan pelayanan keperawatan professional (Suparti, 2005)

PPNI telah menyusun Standar  Asuhan Keperawatan sebagai panduan bagi perawat Indonesia untuk melakukan Asuhan Keperawatannya.

Detail mengenai standar asuhan keperawatan bisa diperoleh di kantor sekretariat PPNI.

Standar Asuhan Keperawatan adalah uraian pernyataan tingkat kinerja yang diinginkan, sehingga kualitas struktur, proses dan hasil dapat dinilai. Standar asuhan keperawatan berarti pernyataan kualitas yang didinginkan dan dapat dinilai pemberian asuhan keperawatan terhadap pasien/klien. Hubungan antara kualitas dan standar menjadi dua hal yang saling terkait erat, karena melalui standar dapat dikuantifikasi sebagai bukti pelayanan meningkat dan memburuk (Wilkinson, 2006).

Tujuan dan manfaat standar asuhan keperawatan pada dasarnya mengukur kualitas asuhan kinerja perawat dan efektifitas manajemen organisasi. Dalam pengembangan standar menggunakan pendekatan dan kerangka kerja yang lazim sehingga dapat ditata siapa yang bertanggung jawab mengembangkan standar bagaimana proses pengembangan tersebut. Standar asuhan berfokus pada hasil pasien, standar praktik berorientasi pada kinerja perawat professional untuk memberdayakan proses keperawatan. Standar finansial juga harus dikembangkan dalam pengelolaan keperawatan sehingga dapat bermanfaat bagi pasien, profesi perawat dan organisasi pelayanan (Kawonal, 2000).

Setiap hari perawat bekerja sesuai standar – standar yang ada seperti merancang kebutuhan dan jumlah tenaga berdasarkan volume kerja, standar pemerataan dan distribusi pasien dalam unit khusus, standar pendidikan bagi perawat professional sebagai persyaratan agar dapat masuk dan praktek dalam tatanan pelayanan keperawatan professional (Suparti, 2005)

PPNI telah menyusun Standar  Asuhan Keperawatan sebagai panduan bagi perawat Indonesia untuk melakukan Asuhan Keperawatannya.

Detail mengenai standar asuhan keperawatan bisa diperoleh di kantor sekretariat PPNI.

Pendidikan Keperawatan

     Pendidikan keperawatan di indonesia mengacu kepada UU No. 20 tahun 2003 tentang Sistem  Pendidikan Nasional. Jenis pendidikan keperawatan di Indonesia mencakup:

Pendidikan Vokasional;

yaitu jenis pendidikan diploma sesuai dengan jenjangnya untuk memiliki keahlian ilmu terapan keperawatan yang diakui oleh pemerintah Republik Indonesia.

Pendidikan Akademik;

yaitu pendidikan tinggi program sarjana dan pasca sarjana yang diarahkan terutama pada penguasaan disiplin ilmu pengetahuan tertentu

Pendidikan Profesi;

yaitu pendidikan tinggi setelah program sarjana yang mempersiapkan peserta didik untuk memiliki pekerjaan dengan persyaratan keahlian khusus.

Sedangkan jenjang pendidikan keperawatan mencakup program pendidikan diploma, sarjana, magister, spesialis dan doktor.

Sesuai dengan amanah UU Sisdiknas No.20 Tahun 2003 tersebut Organisasi Profesi yaitu Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) dan Asosiasi Pendidikan Ners Indonesia (AIPNI), bersama dukungan dari Kementerian Pendidikan Nasional (Kemendiknas), telah menyusun dan memperbaharui kelengkapan sebagai suatu profesi.

Perkembangan pendidikan keperawatan sungguh sangat panjang dengan berbagai dinamika perkembangan pendidikan di Indonesia, tetapi sejak tahun 1983 saat deklarasi dan kongres Nasional pendidikan keperawatan indonesia yang dikawal oleh PPNI dan diikuti oleh seluruh komponen keperawatan indonesia, serta dukungan penuh dari pemerintah kemendiknas dan kemkes saat itu serta difasilitasi oleh Konsorsium Pendidikan Ilmu kesehatan saat itu, sepakat bahwa pendidikan keperawatan Indonesia adalah pendidikan profesi dan oleh karena itu harus berada pada pendidikan jenjang Tinggi.dan sejak itu pulalah mulai dikaji dan dirangcang suatu bentuk pendidikan keperawatan Indonesia yang pertama yaitu di Universitas Indonesia yang program pertamannya dibuka tahun 1985.

Sejak 2008 PPNI, AIPNI dan dukungan serta bekerjasama dengan Kemendiknas melalui project Health Profession Educational Quality (HPEQ), menperbaharui dan menyusun kembali Standar Kompetensi Perawat Indonesia, Naskah Akademik Pendidikan Keperawatan Indonesia, Standar Pendidikan Ners, standar borang akreditasi pendidikan ners Indonesia. dan semua standar tersebut mengacu pada Peraturan Presiden Nomor.8 tahun 2012 tentang Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI) dan sat ini sudah diselesaikan menjadi dokumen negara yang berkaitan dengan arah dan kebijakan tentang pendidikan keperawatan Indonesia.

Standar-standar yang dimaksud diatas juga mengacu pada perkembangan keilmuan keperawatan, perkembangan dunia kerja yang selalu berubah, dibawah ini sekilas saya sampaikan beberapa hal yang tertulis dalam dokumen Naskah Akademik Pendidikan Keperawatan, yang berkaitan dengan Jenis, jenjang, Gelar akademik dan Level KKNI;

Jenis Pendidikan Keperawatan Indonesia:

Pendidikan Vokasi; yaitu pendidikan yang diarahkan terutama pada kesiapan penerapan dan penguasaan keahlian keperawatan tertentu sebagai perawat
Pendidikan Akademik; yaitu pendidikan yang diarahkan terutama pada penguasaan dan pengembangan disiplin ilmu keperawatan yang mengcakup program sarjana, magister, doktor.
Pendidikan Profesi; yaitu pendidikan yang diarahkan untuk mencapai kompetensi profesi perawat.

Jenjang Pendidikan Tinggi Keperawatan Indonesia dan sebutan Gelar:

1. Pendidikan jenjang Diploma Tiga keperawatan lulusannya mendapat sebutan Ahli Madya Keperawatan (AMD.Kep)

2. Pendidikan jenjang Ners (Nurse) yaitu (Sarjana+Profesi), lulusannya mendapat sebutan Ners(Nurse),sebutan gelarnya (Ns)

3. Pendidikan jenjang Magister Keperawatan, Lulusannya mendapat gelar (M.Kep)

4. Pendidikan jenjang Spesialis Keperawatan, terdiri dari:

a) Spesialis Keperawatan Medikal Bedah, lulusannya (Sp.KMB)
b) Spesialis Keperawatan Maternitas, Lulusannya (Sp.Kep.Mat)
c) Spesialis Keperawatan Komunitas, Lulusannya (Sp.Kep.Kom)
d) Spesialis Keperawatan Anak, Lulusannya (Sp.Kep.Anak)
e) Spesialis Keperawatan Jiwa, Lulusannya (Sp.Kep.Jiwa)

5. Pendidikan jenjang Doktor Keperawatan, Lulusannya (Dr.Kep)

Lulusan pendidikan tinggi keperawatan sesuai dengan level KKNI, adalah sebagai berikut:

Diploma tiga Keperawatan – Level KKNI 5
Ners (Sarjana+Ners) – Level KKNI 7
Magister keperawatan – Level KKNI 8
Ners Spesialis Keperawatan – Level KKNI 8
Doktor keperawatan – Level KKNI 9

Kutipan dari Naskah Akademik Pendidikan keperawatan Indonesia oleh PPNI,AIPNI,AIPDIKI dan dukungan dari Kemendiknas (Project HPEQ 2009-2015)

 

Kode Etik Keperawatan

Kode Etik Keperawatan

Mukadimah
Berkat bimbingan Tuhan Yang Maha Esa dalam melaksanakan tugas pengabdian untuk kepentingan kemanusiaan, bangsa dan tanah air, Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) menyadari bahwa perawat Indonesia yang berjiwa pancasila dan UUD 1945 merasa terpanggil untuk menunaikan kewajiban dalam bidang keperawatan dengan penuh tanggung jawab, berpedoman kepada dasar-dasar seperti tertera di bawah ini:

Perawat dan Klien
1. Perawat dalam memberikan pelayanan keperawatan menghargai harkat dan martabat manusia, keunikan klien, dan tidak terpengaruh oleh pertimbangan kebangsaan, kesukuan, warna kulit, umur, jenis kelamin, aliran politik, dan agama yang dianut serta kedudukan social.
2. Perawat dalam memberikan pelayanan keperawatan senantiasa memelihara suasana lingkungan yang menghormati nilai-nilai budaya, adat istiadat dan kelangsungan hidup beragama dari klien
3. Tanggung jawab utama perawat adalah kepada mereka yang membutuhkan asuhan keperawatan
4. Perawat wajib merahasiakan segala sesuatu yang diketahui sehubungan dengan tugas yang dipercayakan kepadanya kecuali jika diperlukan oleh berwenang sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku.

Perawat dan Praktik
1. Perawat memelihara dan meningkatkan kompetisi dibidang keperawatan melalui belajar terus menerus
2. Perawat senantiasa memelihara mutu pelayanan keperawatan yang tinggi disertai kejujuran professional yang menerapkan pengetahuan serta keterampilan keperawatan sesuai dengan kebutuhan klien.
3. Perawat dalam membuat keputusan didasarkan pada informasi yang akurat dan mempertimbangkan kemampuan serta kualifikasi seseorang bila melakukan konsultasi, menerima delegasi dan memberikan delegasi kepada orang lain
4. Perawat senantiasa menjunjung tinggi nama baik profesi keperawatan dengan selalu menunjukkan perilaku professional

Perawat dan Masyarakat
1. Perawat mengemban tanggung jawab bersama masyarakat untuk memprakarsai dan mendukung berbagai kegiatan dalam memenuhi kebutuhan dan kesehatan masyarakat.

Perawat dan Teman Sejawat
1. Perawat senantiasa memelihara hubungan baik dengan sesama perawat maupun dengan tenaga kesehatan lainnya, dan dalam memelihara keserasian suasana lingkungan kerja maupun dalam mencapai tujuan pelayanan kesehatan secara menyeluruh
2. Perawat bertindak melindungi klien dari tenaga kesehatan yang memberikan pelayanan kesehatan secara tidak kompeten, tidak etis dan illegal.

Perawat dan Profesi
1. Perawat mempunyai peran utama dalam menentukan standar pendidikan dan pelayanan keperawatan serta menerapkannya dalam kegiatan pelayanan dan pendidikan keperawatan
2. Perawat berperan aktif dalam berbagai kegiatan pengembangan profesi keperawatan
3. Perawat berpartisipasi aktif dalam upaya profesi untuk membangun dan memelihara kondisi kerja yang kondusif demi terwujudnya asuhan keperawatan yang bermutu tinggi.

27 Jun 2016 12:47:12
Post By : Userdemo

All About GERIATRY (ASM 2012)

Tempat  : Auditorium Gedung MM UGM, Jl Teknika Utara, Yogyakarta 55281
Waktu  : 03 Maret 2017 s/d 04 Maret 2017
Tingkat  : Lokal
Pembicara  : Prof. drg. Etty Indriati, Ph.D (Yogyakarta)
Penyelenggara  : Bag. I.K. Kulit & Kelamin FK UGM/RSUP Dr. Sardjito dan Panitia ASM 2012 bekerjasama dengan PERDOKSI cabang Yogyakarta
Download File  :

Kata Pengantar

Dengan bertambahnya usia harapan hidup di Indonesia, jumlah penduduk berusia tua semakin banyak, sehingga semakin banyak pula dijumpai masalah kesehatan. Geriatry tidak hanya penuaan semua organ-organ tubuh termasuk kulit, tetapi juga disfungsi seksual dan problem psikiatri.

Dalam rangka Dies Natalis FK UGM tahun 2012, Bag. I.K. Kulit & Kelamin FK UGM/RSUP Dr. Sardjito dan Panitia ASM 2012 bekerjasama dengan PPNI cabang Yogyakarta menyelenggarakan seminar dengan topik-topik yang ditujukan untuk dokters spesialis kulit & kelamin, dokter spesialis lain, dokter umum, perawat & tenaga kesehatan yang disesuaikan dengan kompetensi masing-masing.

 

Panitia,

7th Regional Scientific Meeting on Pediatric Dermatology (RSMPD)

Tempat  : Jakarta – Hotel Borobudur
Waktu  : 23 November 2012 s/d 25 November
Tingkat  : Lokal
Pembicara  : Arnold P. Oranje
Penyelenggara  : KSDAI bekerjasama dengan PERDOSKI dan PERDOSKI Jaya
Download File  :

Scientific Topics

PLENARY LECTURES
1. What’s new in Pediatric Dermatology?
2. Novel molecular therapies for heritable skin disorders
3. What’s new on systemic therapy in pediatric dermatology
4. Pitfalls in pediatric dermatology and rescue
5. Langerhans cell histiocytosis: Clinical manifestation and its management

SYMPOSIA

1. All about ichthyosis
2. Inherited vesicobullous diseases
3. Connective tissue diseases in children
4. Atopic dermatitis: What’s new?
5. Urgencies and emergencies in pediatric dematology
6. Cutaneous viral infections in children
7. Erythropapulosquamous disorders in children
8. Skin physiology and skin care of the newborn
9. Alert on sexually transmitted infections in pediatrics
10. Disorders of pigmentation in children
11. Lasers and phototerapy in pediatric dermatology
12. Cosmetic problems in pediatric dermatology

FOCUS SESSION
1. Topical modalities in pediatric dermatology
2. Wound management in pediatrics
3. Hemangioma: New aspects
4. HIV/AIDS in pediatrics: An iceberg in ASEAN countries
5. Surgical procedures in pediatrics
6. Emerging trends in MRSA infection

PANEL DISCUSSION
1. Practical approaches on drug eruptions in children

MEET THE EXPERT
1. Non-inherited pigmentary disorders in children: diagnosis and management
2. How to manage dystrophic nails with more confidence
3. Urticaria and angioedema in children: How to manage
MORNING SESSION
1. Skin infestations: More than itch
2. The forgotten disease: Jaws and tinea imbrikata in Indonesia

SEKRETARIAT

Kelompok Studi Dermatologi Anak Indonesia
Ruko Grand Salemba
Jl. Salemba 1 no. 22, Jakarta Pusat 10430

Registrasi: Ms. Dwi
Ph. /Fax:
62-21-3161133
Cell phone : +6281298238299
Email : secretariat@rsmpd2012.com
Website : www.rsmpd2012.com

Pembicara Luar Negeri:
1. Arnold P. Oranje (Netherlands)
2. Marcel F. Jonkman (Netherlands)
3. John Harper (UK)
4. Jouni Uitto (USA)
5. Boon Kee Goh (Singapore)
6. Chee Leok Goh (Singapore)
7. Yoke Chin Giam (Singapore)
8. Donna Marie L. Sarrosa (Phillipines)
9. Evangeline B. Handog (Phillipines)
10. Roberta Romero (Phillipines)
11. Mardziah Alias (Malaysia)
12. Roshidah Baba (Malaysia)
13. Sabeera Begum (Malaysia)
14. Steven K. W. Chow (Malaysia)
15. Rataporn Ungpakorn (Thailand)
16. Siriwan Wananukul (Thailand)
17. Srisupalak Singalavanija (Thailand)

Pembicara dari INDONESIA
1. Agustin Triana Dewi
2. Ari Muhandari Ardhie
3. Arwin A. P. Akib
4. Dalima Astrawinata
5. Evita Halim Effendi
6. Farida Oesman
7. Farida Tabri
8. Farida Zubier
9. Githa Rahmayunita
10. Hans Lumintang
11. Hardyanto Soebono
12. Hendrotomo
13. Indah Julianto
14. Inne Arline Diana
15. Iskandar Zulkarnain
16. Kusmarinah Bramono
17. Lies Surachmiati
18. Maya Devita Lokanata
19. Najib Advani
20. Nia Kurniati
21. Oki Suwarsa
22. Prima Kartika Esti
23. Rahadi Rihatmadja
24. Reiva Farah Dwiyana
25. Retno Danarti
26. Retno Widowati Soebaryo
27. Roro Inge Ade Kristanti
28. Sandra Widaty
29. Sawitri Handojo
30. Siti Aisah Boediardja
31. Sjaiful Fahmi Daili
32. Sri Rezeki Harun H.
33. Srie Prihianti
34. Theddeus O. H. Prasetyono
35. Theresia L. Toruan
36. Tina Wardhani Wisesa
37. Titi Lestari Sugito
38. Tjut Nurul Alam Jacoeb
39. Tony S. Djajakusumah
40. Tridia Sudirga
41. Wresti Indriatmi
42. Yohanes Widodo W.
43. Zakiudin Munazir

Pelatihan Modul Pembekalan Flap, Blepharoplasty, dan Liposuction

Tempat  : DEPT. IKKK RSUP Moh. Hoesin
Waktu  : 10 Desember 2012 s/d 11 Desember
Tingkat  : Lokal
Pembicara  : Prof. Dr. Theresia L. Toruan, SpKK (K)
Penyelenggara  : PERDOSKI CABANG PALEMBANG dan Kelompok studi tumor dan Bedah kulit    (kstbki)
Download File  :

Pelatihan Modul Pembekalan
Flap, Blepharoplasty, dan Liposuction
Palembang, 10-11 Desember 2012

Penyelenggara 
PERDOSKI CABANG PALEMBANG bekerjasama dengan Kelompok studi tumor dan Bedah kulit (kstbki)

Pembicara
– Dr. Lis Surachmiati Suseno, SpKK
– Dr. Gunawan, SpKK
– Prof. Dr. Theresia L. Toruan, SpKK (K)
– DR. Dr. Yulia Farida Yahya, SpKK (K)
– Dr. Susanti Budiamal, SpKK

Biaya:
– Anggota Biasa PERDOSKI Palembang: Rp. 1.250.000
– Anggota Muda PERDOSKI Palembang: Rp. 750.000
– Anggota Biasa PERDOSKI cabang lain: Rp. 2.000.000
– Anggota Muda PERDOSKIcabang lain: Rp. 1.000.000

Akan diadakan Workshop & Hands On (Maret 2013)  Mentor: Tim J. Rosio, MD, ASDS ITMP (USA)
10 SKP, Peserta terbatas (Max.100 orang)

 

SEKRETARIAT PERDOSKI PALEMBANG: DEPT. IKKK RSUP Moh. Hoesin
JL. Jend. Sudirman Km 3 Palembang. Telp. 0711-314172, FAX. 0711-314172
Email:dermatologi_plb2013@yahoo.com
Contact person:
Dr. Rika: 082176252419
Dr. Astrid: 081278217879

Pertemuan Ilmiah Tahunan XII

Tempat  : The Sunan Hotel Solo
Waktu  : 21 Juni 2012 s/d 24 Juni 2012
Tingkat  : Nasional
Pembicara  :
Penyelenggara  : PERDOSKI cabang Surakarta
Download File  :

Suatu kehormatan besar bagi kami, PERDOSKI cabang Surakarta sebagai pelaksana Pertemuan Ilmiah Tahunan (PIT) PERDOSKI tahun 2012. PIT XII PERDOSKI di Surakarta merupakan wahana tukar menukar pengalaman, menambah wawasan dan pengetahuan bagi anggota PERDOSKI khususnya sehingga memiliki nilai tambah dalam upaya meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.

Berbeda dengan Pertemuan Ilmiah Tahunan sebelumnya, PIT kali ini akan melibatkan beberapa kelompok studi untuk mendukung penyelenggaraan dan suksesnya acara tersebut. Kali ini tema besar yang dikemukanan adalah tentang Tumor dan Bedah Kulit. Tema utama ini diangkat karena topik bahasan tentang Tumor dan Bedah Kulit terakhir menjadi tema PIT 2000 di Semarang.

Kami berharap sejawat bisa mengikuti PIT XII di Surakarta, mengikuti perkembangan dan kemajuan Tumor dan Bedah Kulit, serta menikmati keindahan budaya dan wisata kuliner kota Surakarta.

Prasetyadi Mawardi, dr.SpKK

Press Conference RUU keperawatan di ruang wartawan DPR RI

Press Conference ini diadakan untuk melihat gambaran pembahasan tentang RUU Keperawatan (RUUK) yang rencananya akan dilakukan pada hari Rabu, 18 September 2013 di Ruang Komisi IX DPR RI antara Komisi IX DPR RI, Menkes, Mendikbud, Menakertrans, Menhukham, Menpan. Termasuk juga tembusan undangan untuk PPNI dan IBI .

Berikut hasil lengkap Conference tersebut :

Harif  Fadhillah : Perawat butuh perlindungan hukum. Mengatur profesi perawat secara  spesifik
Prof Budi : pemerintah sepakat RUUK dipisah dari RUU nakes. RUUK mengatur ttg bergerak (mengatur bagaimana profesi berjalan) RUU nakes mengatur ttg tidak bergerak (mengatur tentang fasilitas pendidikan, sertifikasi, dan legislasi).RUU keperawatan merupakan inisiatif DPR.banyak hal pemerintah sepakat dengan pasal-pasal RUUK usulan DPR, agar RUUK lebih menguatkan tidak bertentangan dg UU yang sudah ada, seperti ; Kolegium tidak perlu diatur dlm UU, Konsil ditolak oleh MenPAN karena sangat rumit prosesnya. Pemerintah mengusulkan UU keperawatan digabung dg kebidanan, karena rumpun keilmuannya sama. Dulu bidan adalah perawat, tetapi sekarang berkembang bidan tanpa perawat. Dinegara-negara lain banyak UU keperawatan dan kebidanan dalam satu UU.
Tentang konsil. Konsil adalah civil society, kecuali malaysia dan singapur konsil dipegang dirjen yanmednya. Kita menganggap sertifikasi dan legislasi dipegang oleh pemritah. Kita bisa pakai konsil mandiri tetapi register dari pemerintah. Kita tidak mempersulit. Kita siap menyelesaikan dalam waktu yang pendek. Tetapi kita juga usul UU nakes juga dibahas.
Dr. Nova : awalnya ada pemikiran dokter takut dan menolak UUK. Paranoid  dg RUUK, setelah kita mendengarkan masukan dari perawat dan hasil studi banding, akhirnya kami menyadari perlunya UU keperawatan. Ketika dr nizr Shihab sebagai ketua Panja saya gantikan sebagai wakil ketua komisi 9 dan juga saya sekaligus menjadi ketua panja RUUK. Kita mulai inten bahas RUUK sejak 2011. Ada sebuah kebutuhan distribusi tenaga kesehatan yang tidak merata. Perawat merupakan garda terdepan dalam melayani kesehatan di masyarakat. Banyak perawat dikriminalkan oleh oknum polis. Hal inilah yang mendorong perawat untuk kebutuhan UUKeperawatan sama dengan dokter. Hari ini kita lihat banyak sekali pendidikan STIKES, tidak tersatandarisasi. Inilah yang mendorong perlunya UUK. BPJS akan berlangsung 2014. Servicenya da yang memberi servuce tidak ada. Dokter belum siap SDM nya. Tidak realistis menunggu dokter banyak. Maka perlu diatur standarisasi perawat.Tentang tawaran pemerintah untuk RUUK digabung dengan bidan. Ada yang beranggapan saya adalah partai pemerintah (baca: partai demokrat) akan mendukung sikap pemerintah. Saya tetap konsisten mendorong RUUK mandiri tanpa bidan, karena RUUK sudah melewati proses yang panjang, walaupun ada pemikiran perawat dan bidan satu rumpun. Itu hanya proses pendidikan. Di DPR bidan sudah masuk Prolegnas th 2010 untuk membuat RUU praktek kebidanan. Hasil kita dengar pendapat dengan IBI dan PPNI beberapa waktu yang lalu, sepertinya bidan setuju digabung menjadi RUU keperawatan dan kebidanan. Karena bidan melihat lebih mudah prosesnyasudah akan disahkantidak perlu lagi berjuang lamaKalau RUU praktek kebidanan didorong akan lama prosesnya. Kita inginkan bidan lebih banyak dibahas di RUU nakes. Prinsipnya kita di DPR tidak ada kata susul susulan RUUK dan RUU nakes. Bidan didorong ke RUU nakes. RUUK dan RUU nakes. Besok (Hari ini, 18 sept 2013) 9 Fraksi akan memberi pendapatnya lagi.

Selanjutnya peratanyaan-pertanyaan :
Wartawan 1 : seperti dr nova, kalau punya semangat nasionalisme, kenapa tidak memberikan keleluasaan pada pendidikan dokter, saya ragu dengan kemampuan bidan dan perawat
Wartawan 2/ alam : menarik melihat RUUK, masalahnya sekarang dokter minim. Saya wawancara ekpedisi kesra ke pulau terluar. Dimana kebutuhan pelayanan kesehatan sangat tinggi. Apa subtansinya RUUK?
Wartawan 3/Okta : DPR sedang fokus untuk RUUK, karena inisiatif DPR. Kalau bicara ahli kesehatan, kita bisa buat RUU satu atap. Karena DPR mau kelar (habis masa jabatan), jangan samapai dianggap proyek (membuat RUU)

Jawaban :
Harif  : persoalan pendidikan, kita sudah mempunyai pendidikan perawat spesialis, dalam rangka meningkatkan pelayanan keperawatan. Saya pernah diwawancarai TV NHK jepang. Jumlah perawat Jepang 1,8 juta, mereka bertanya, apakah di Indonesia perawatnya lebih banyak dariJepang. Di Indonesia jumlahnya 200 ribuan yang aktif sebagai perawat dg jumlah penduduk yang jauh lebih banyak dari Indonesia. Kenapa perawat Indonesia berminat kerja di jepang,karena kesejahteraan lebih baik di jepang. Tentang perawat dan bidan yang tidak bisa mengerjakan pekerjaan dokter, Jelas tidak bisa. Tetapi ketika disuruh kerjakan kerja perawat dan bidan pasti mampu. Kita Perawat punya asuhan keperawatan.
Prof Budi : kita dihadapkan dg BPJS th 2014. Dilema. Kita mau jumlah atau kualitas. Contohnya  dokter. Sebelumnya ada 35 institusi, sekarang ada 72 institusi pendidikan dokter. Dosennya 15 orang, mhsnya 400 orang. Mau jadi dokter kayak apa. sama hal dengan perawat. Karena kualitas harus dikontrol dengan UU. Rasio dokter menurut WHO adalah 1 dokter: 3000 penduduk.tetapi di Inonesia kita usahakan 1 dokter: 6000 penduduk.
Dr Nova : dalam UU nanti ada diatur pelimpahan wewenang, tetap dilihat kemampuannya. Core tugas perawat adalah melaksanakan asuhan keperawatan.