ASEAN MEETING PPNI Mengawal MEA untuk Kepentingan Bangsa

Semarang, 30-31 Januari 2017. MEA adalah forum harmonisasi yang salah satu artinya adalah berbagi dan saling mempengaruhi. Track record yang bagus dari sebuah bangsa akan menjadikan peluang negara lain berkonsultasi. Semakin berpengaruh, negara lain akan mengikuti apa yang dimauinya,  yang berarti pekerjaan rumah sebuah bangsa yang berpengaruh semakin kecil dalam kancah MEA.

Diskusi banyak diarahkan oleh dari Thailand dan meeting chair dari Malaysia. Kontribusi Indonesia untuk mengarahkan MEA demi kepentingan nasional belum bisa ditunjukan maksimal. Indonesia dengan jumlah perawat dan penduduk terbesar di ASEAN banyak mengalami kendala untuk menjadi leader di ASEAN. Beberapa documen dan terjemahanya, seperti kurikulum pendidikan belum bisa diberikan dalam tenggat waktu yang diminta.

Dalam beberapa hal, Indonesia bahkan mencontoh negara-negara CMLV (Kamboja, Myanmar, Laos dan Vietnam), termasuk konsil tenaga kesehatan. Dua minggu sebelum pertemuan ini, Laos telah memliki konsil tenaga kesehatan (health care professional council). Jika KTKI nantinya akan berdiri, strukturnya akan sangat mirip dengan apa yang dipresentasikan oleh Laos, negara yang tidak bisa dibandingkan dengan Indonesia. Indonesia semakin tertinggal dalam membangun prosfesi keperawatan dan mencontek Laos dalam struktur KTKI (Konsil Tenaga Kesehatan Indonesia). Contoh lain, keberhasilan Vietnam, negara yang tergolong berpenghasilan rendah dalam menekan angka kematian ibu dan bayi juga menarik perhatian Indonesia. Dalam forum ini, pemerintah juga tidak dapat memberikan data valid tentang jumlah perawat dan pertumbuhanya setiap tahun. Asumsi hanya menggunakan data kelulusan pertahun, kelulusan uji kompetensi nasional dan keanggotaan PPNI serta jumlah STR yang telah diterbitkan.

Petemuan selanjutnya akan dilakukan di Kamboja pada bulan September 2017. Pekerjaan rumah (PR) besar yang dijanjikan Indonesia, antara lain pendirian konsil, harmonisasi standar kompetensi dengan 5 core competency ASEAN dapat dipenuhi. Seperti kita ketahui, 5 core competency ASEAN for nurses dari isi dan tata urutanya sama persis dengan milik Malaysia. Berbagai pekerjaan rumah AJCCN (Asean Joint Coordinating Committee on Nursing) banyak dikerjakan oleh Thailand dan Philipine. Indonesia harus focus pada dua PR besar, Konsil Keperawatan dan Harmonisasi Standar Kompetensi dengan 5 ASEAN core competncy. Diperlukan komitmen besar dari pemerintah untuk menjamin pendirian Konsil Keperawatan yang akan mengawal berbagai putusan putasan MEA yang pro rakyat dan pro perawat.

Hal telah dimiliki oleh Indonesia antara lain adalah peraturan menteri untuk menapis tenaga kesehatan asing bekerja di Indonesia. Terjemahan standar kompetensi yang telah diterjemahkan oleh PPNI, Kerangka kualifikasi nasional Indonesia.

 PPNI adalah satu-satunya lembaga non pemerintah dalam pertemuan tersebut yang hadir. Perwakilan negara lain adalah konsil atau board of nursing, sementara dari Indonesia diwakilkan oleh Puskat Mutu BP PPSDM. Komitmen-komitmen negara, khususnya Indonesia dalam MEA adalah salah satu peluang memperbaiki kebijakan dan kelembagaan untuk meningkatkan mutu keperawatan di Indonesia. Untuk itu, sejak tahun 2015 PPNI tidak pernah absen mengikuti pertemuan AJCCN dengan biaya mandiri.